| Kelahiran |
| 0 Orang |
| Kematian |
| 0 Orang |
| Masuk |
| 0 Orang |
| Pindah |
| 0 Orang |
| Kelahiran |
| 0 Orang |
| Kematian |
| 0 Orang |
| Masuk |
| 5 Orang |
| Pindah |
| 0 Orang |
26 Agustus 2016 1.257 Kali
Sejarah Pekon
Sejarah meriwayatkan (Periode Sejarah Tahun 1400) terkenal dalam istilah masa hindu, maka sehubungan dengan keadaan situasi dimasa itu telah sepakatlah dari sekeluarga Penyimbang Paksi Buway Belunguh Kenali, Kecamatan Belalau Kabupaten Lampung Barat sekarang ini.
Mereka sepakat dengan keluarga besar Pampang Balak dari kepaksian Belunguh (Kenali) melakukan pelawatan pindah dari dataran tinggi Belalau kedaerah pantai teluk semaka karena didaerah asal mereka tidak memungkinkan lagi untuk memperluas areal pertanian, perkebunan dan persawahan berhubungan tanahnya berbukit-bukit sedangkan didaerah pantai teluk semaka terdapat keadaan tanah rata dan dapat diperluas areal persawahan, perkebunan, perladangan dan sebagainya.
Adapun mereka sekeluarga besar pampang balak dari Kenali yang berangkat terdiri dari keturunan yang dewasa ini masih terdapat yaitu :
Pada mulanya mereka bertiga membuat kampung halaman yang terletak di HAM Dalom atau daerah Cunggung, namun karena tempat tersebut berbukit-bukit maka merekapun menempatkan pedusunannya dan mereka menamakan Kampung/Dusun, mereka mempunyai aliran agama Hindu yakni dari tahun 1400 M hingga tahun 1552 M.
Oleh karena itu tahun 1552 M hubungan Lampung dengan Banten sangat dekat sekali hingga banyak rakyat Lampung yang melawat ke Banten menjual rempahnya, berhubung Kota Banten  merupakan pusat perdagangan dari berbagai benua seperti Portugis dan Inggris dan hal ini berjalan hingga tahun 1808 M.
Karena perkembangan masyarakat dari arus perpindahan penduduk dan daerah mereka semakin semakin berkembang sehingga tidak memungkinkan lagi untuk tertampung didaerah Kagungan ratu. Kemudian mereka sepakat untuk memperluas wilayah dan membuat kampung baru didaerah Lakaran yaitu pekon Kagungan Ratu yang sekarang ini pada tahun 1700 M jauh sebelum gunung krakatau meletus.
Pada tahun 1809 hingga tahun 1883 Sultan Banten menguasai perdagangan hasil bumi dari rakyat Lampung berkongsi dengan persekutuan dagang Belanda yang terkenal dengan istilah VOC dan mereka mendirikan kantor perdagangan didaerah pantai selatan Teluk Semaka (kampung Tanjungan) yang sekarang ini.
Akibat dari letusan gunung Krakatau pada tahun 1883 yang sangat dahsyat itu, daerah pantai teluk semaka di kuasai sepenuhnya oleh Pemerintah Belanda yang masa itu di Pekon Kagungan Ratu ada pemimpin adat yang mempunyai kekuatan yang disegani rakyat dan dipatuhi, maka oleh orang Belanda diangkat sebagai Kepala Kampung yang pertama di Pekon Kagungan.
Adapun Silsilah Kepemimpinan Kepala Pekon Kagungan hingga saat ini adalah sebagai berikut :
| NO | NAMA | MASA JABATAN | KETERANGAN |
| 1 | PANGERAN JAYA | 1883 - 1889 | Kepala Kampung |
| 2 | RAJA MANGKU ALAM | 1889 - 1897 | Kepala Kampung |
| 3 | RAJA MANGKU BUMI | 1897 - 1913 | Kepala Kampung |
| 4 | ABDULLAH (Gelar Pangeran Sangun Ratu) | 1914 - 1924 | Kepala Kampung |
| 5 | ABDUL HALIM (Gelar Kimas Bangsa Batin) | 1925 - 1936 | Kepala Kampung |
| 6 | HASAN SIN (Gelar Kimas Bangsa Batin) | 1936 - 1938 | Kepala Kampung |
| 7 | MAT SAMMAN (Gelar Batin Bangsawan) | 1938 - 1967 | Kepala Kampung |
| 8 | M. UMAR | 1967 - 1969 | Kepala Desa |
| 9 | M. RASIT | 1969 - 1974 | Kepala Desa |
| 10 | JOHAN AZUDDIN (Gelar Pangeran Wira Krama) | 1974 - 1976 | Kepala Desa |
| 11 | H. SALUDDIN. S | 1976 - 1995 | Kepala Desa |
| 12 | M. ZUBIR YS | 1995 - 1998 | PJ Kepala Desa |
| 13 | HAMZAH AH | 1998 - 2006 | Kepala Pekon |
| 14 | B. IBRAHIM SUPRI | 2006 - 2012 | Kepala Pekon |
| 15 | B. IBRAHIM SUPRI | 2012 - 2013 | PJ Kepala Pekon |
| 16 | REVO RIO NIKSON | 2013 - 2019 | Kepala Pekon |
| 17 | WILDAN HISTORI | 2019 - 2021 | PJ Kepala Pekon |
| 18 | IMRON | 2021 - Sekarang | Kepala Pekon |
Â
Kepala Kampung Abdullah gelar Pangeran Sangun Ratu Desa Kagungan ini dijadikan sebagai Ibu Kota Makhga Buway Belunguh (Kepala Marga/Pasirah) yakni sejak tahun 1926 – 1936 M.
Kemudian pada tahun 1937 sampai dengan tahun 1955 Pasirah digantikan dengan putra dari Abdullah gelar Pangeran Sangun Ratu yang bernama Ahmat Sirat gelar Sultan Sangun Ratu bahwa atas dasar SK Gubernur Provinsi Sumatera Selatan tahun 1955.
Makhga/Pasirah dihapuskan di daerah Lampung menjadi negeri, maka pekon Kagungan ini dikembalikan sebagai pemerintah pekon.
Demikian pula perkembangan penduduk pekon Kagungan ini adalah semenjak tahun 1955 karena berdirinya Pasar Simpang dan semenjak itu pula banyak suku bangsa lain yang datang ke Pekon Kagungan dan Pasar Simpang.
Bahkan ada yang pindah dan ada juga yang menetap menikah dengan penduduk asli Pekon Kagungan. Mengenai tata kehidupan masyarakat pekon Kagungan adalah hidup dengan pertanian,perkebunan dan persawahan demikian pula keadaan masyarakat masih kuat memegang adat istiadat yang diwarisi dari keturunan nenek moyang mereka sejak zaman purbakala.
Untuk artikel ini
Realisasi | Anggaran
Realisasi | Anggaran
Realisasi | Anggaran